
Ramadhan bagi orang-orang beriman adalah kesempatan untuk bersungguh-sungguh. Baik bersungguh-sungguh dalam puasa maupun dengan ibadah-ibadah lainnya. Orang-orang beriman akan meraih kesempatan ini dengan sebenar-benarnya dan tidak akan menyia-nyiakannya.
Pada bulan ini terdapat jihad yang mulia. Nyatanya jihad itu tidak selalu tentang peperangan, tidak selalu tentang pertumpahan darah, tidak selalu tentang mengalahkan kekuatan musuh, dan tidak selalu jihad bertempat pada kancah peperangan.
Ternyata, di bulan Ramadhan terdapat jihad yang mulia dan agung. Inilah medannya orang-orang beriman berjihad, inilah waktunya orang-orang berjihad dengan segala kemampuannya. Simaklah perkataan Al-Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah,
وَاعْلَمْ أَنَّ المُؤْمِنَ يَجْتَمِعُ لَهُ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ جِهَادَانِ لِنَفْسِهِ: جِهَادٌ بِالنَّهَارِ عَلَى الصِّيَامِ وَجِهَادٌ بِاللَّيْلِ عَلَى القِيَامِ فَمَنْ جَمَعَ بَيْنَ هَذَيْنِ الجِهَادَيْنِ وَوَفَّى بِحُقُوقِهِمَا وَصَبَرَ عَلَيْهِمَا وَفَّى أَجَرَهُ بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Ketahuilah, bahwasanya orang-orang beriman ketika berada di bulan ramadhan berkumpul pada dirinya dua jihad; jihad yang pertama adalah jihad di siang hari dengan berpuasa, jihad yang kedua adalah di malam hari dengan melaksanakan qiyamul lail (sholat tarawih). Maka barang siapa yang menggabungkan kedua jihad ini dan melaksanakan hak-hak keduanya serta bersabar dalam menjalankannya, pahalanya akan disempurnakan tanpa batas.” (Lathaiful Ma’arif hal.171 cet.Dar Ibnu Hazm)
Karena keimanan yang menguasai hati-hati mereka dan ilmu yang melandasi keimanan mereka jadilah mereka orang-orang yang terdepan dalam berjihad di bulan Ramadhan ini. Disebutkan pada perkataan Ibnu Rajab di atas bahwasanya dua jihad berkumpul dan bertemu di bulan ramadhan ini.
Di siang hari seorang mukmin mengisi waktunya dengan berpuasa. Mengosongkan lambungnya dalam rangka ketaatan kepada Allah. Dan ini merupakan bagian dari jihad fi sabilillah. Simaklah hadits berikut, dari Abu Sa’id Al-Khudri radiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَن صامَ يَوْمًا في سَبيلِ اللَّهِ، بَعَّدَ اللَّهُ وجْهَهُ عَنِ النَّارِ سَبْعِينَ خَرِيفًا
“Barangsiapa yang berpuasa satu hari di jalan Allah, Allah akan menjauhkan wajahnya dari neraka sejauh tujuh puluh tahun.” (HR. Bukhari 2840)
Hadits di atas berbicara tentang puasa sunnah, lalu apatah lagi puasa wajib di bulan Ramadhan? Yang mana Allah langsung yang membalas pahalanya. Sebagaimana dalam hadits qudsi yang masyhur. Allah Ta’ala berfirman dalam hadits qudsi,
يقولُ اللهُ عزَّ وجلَّ كلُّ عمَلِ ابنِ آدمَ له إلا الصيامَ فهو لِي وأنا أجزِي بِهِ إنَّمَا يتْرُكُ طعامَهَ وشَرَابَهُ مِن أجْلِي فصيامُهُ لَه وأنا أجزِي بِه كلُّ حسنةٍ بعشرِ أمثالِهَا إلى سبعمائِةِ ضعفٍ إلا الصيامَ فهو لِي وأنا أجزِي بِهِ
“Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: ‘Setiap amal anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya. Sesungguhnya ia meninggalkan makanan dan minumannya karena Aku. Maka puasanya itu dan Aku yang akan membalasnya. Setiap satu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh kebaikan yang serupa hingga tujuh ratus kali lipat, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.'” (Muttafaqun ‘Alaih)
Karenanya, ambillah kesempatan ini dengan sebaik mungkin dan raihlah predikat menjadi orang-orang bertakwa pada bulan ini.
Wallahul muwaffiq
Zia ‘Abdurrofi
Depok, 7 Ramadhan 1447 H- 25 Februari 2025